MARI BERBAGI PENGETAHUAN,
PENDAPAT ANDA SANGAT BERMANFAAT.
Sunday, November 10, 2013
Dampak Orang Tua yang Otoriter
Anak adalah suatu berkat yang luar biasa yang sangat didambakan kehadirannya oleh pasangan yang telah menikah. Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh faktor didikan dan bimbingan keluarga
Asesmen Anak
ASESMEN ANAK
Asesmen anak bayi
Teknik :
Asesmen anak usia 5-10 tahun :
Teknik :
Asesmen anak usia 10-13 tahun
Teknik :
Asesmen untuk remaja
Teknik :
Asesmen anak bayi
Teknik :
- Observasi (mengamati perkembangan bayi, reaksi, kontak mata, ekspresi; tampak senang atau tidak)
- Menilai interaksi orangtua - anak
- Studi dokumentasi (cacatan medis, diary, laporan/wawancara dengan ibu, ayah, pengasuh atau orang terdekat lainnya)
Teknik :
- Observasi
- Bermain peran (permainan keluarga boneka, pesta ulang tahun, piknik)
- Membaca buku/bercerita
- Dialog (kalimat pendek, istilah anak, gunakan nama bukan kata ganti, katakan dengan cara lain, hindari pertanyaan yang melibatkan waktu)
- Gambar wajah
- Studi dokumentasi (cacatan medis, diary, laporan/wawancara dengan ibu, ayah, pengasuh atau orang terdekat lainnya)
Asesmen anak usia 5-10 tahun :
Teknik :
- wawancara
- Membaca buku/bercerita
- Menggambar (diri, ayah, ibu, keluarga)
- Permainan (permaianan keluarga boneka, pesta ulang tahun, dll)
- Observasi
- Catatan medis
- Laporan /wawancara dengan ibu, ayah, penagsuh atau orang terdekat lainnya
Asesmen anak usia 10-13 tahun
Teknik :
- Menggambar Diri sendiri, ayah, ibu, keluarga
- Jalan kehidupan
- Permainan menebak
- Debat (misalnya tentang pindah)
- Bermain peran
Asesmen untuk remaja
Teknik :
- Time line
- Mobility Map
- Body map
- Risk maping
- Di awal topik membicarakan tentang isu sentral dalam kehidupan remaja seperti hobi, berpacaran, teman, kelas olahraga, kegiatan ekstrakulikuler, dll.
Asesmen Pekerjaan Sosial
Aspek Asesmen
- Kebutuhan perkembangan anak : Kesehatan; pendidikan; identitas; perkembangan emosional, mental, sosial, kognitif dan spiritual; relasi dalam keluarga; Tampilan sosial; keterampilan perawatan diri.
- Kapasitas Parenting : Perawatan Dasar, Memberikan rasa aman, nyaman; Kehangatan emosional; stimulus; Bimbingan dan batasan; Stabilitas.
- Faktor Lingkungan : Sejarah keluarga dan keberfungsian; Keluarga Besar; Perumahan; pekerjaan; pendapatan; integrasi sosial keluarga; sumber-sumber dalam masayarakat.
Teknik Asesmen pada anak
- Observasi
- Wawancara
- Studi Dokumentasi
- Focus Group Discussion
- Recall (life history, testimoni; instant reall, eriod recall, time line)
- Role play
- Written methods (puisi, diary, surat, kuesioner)
- Visual Methods (foto, film, poster, menggambar/gambar
Panduan Asesmen Biopsikososial Spiritual
Bio :
- Gambaran fisik klien : Jenis kelamin, umur, berat badan, tinggi badan, kecacatan (jika ada), dan tanda kekerasan atau penelantaan jika ada.
- Penampilan Klien : Cara berbicara, kehangatan, respon awal terhadap wawancara, body expression, dll
- Status Kesehatan : Apakah ada diagnosis penyakit? Layanan kesehatan apa yang diterima klien? apakah klien telah berkonsultasi dengan sumber lain tentang jenis penyembuhan untuk masalah kesehatan? apakah sedang menggunakan obat? catatan kesehatan dan pengobatannya. Apakah kecanduan terhadap narkotika atau alkohol? apakah status kesehatannya merupakan masalah dalam rencana masalah dalam rencana pelayanan?
- Gambaran tentang kondisi emosi klien : cara bicara, respon terhadap suatu masalah, pola pikir klien, dan pikiran-pikiran dia kepada situasi yang dihadapinya.
- Kesehatan jiwa : Adakah bukti tentang masalah kesehatan jiwa seperti depresi, gelisah ekstrim, gangguan kognitif? psikosis? bagaimana masalah kesehatan jiwa ini berpengaruh dalam keberfungsian sosialnya?
- Catatan menjadi korban : Pengalaman trauma, kekerasan dan penganiayaan? asesmen resiko.Seberapa amankah lingkungannya sekarang ini? Faktor resiko keselamatan apa yang ada dalam kehidupan klien saat ini?
- Situasi saat ini dan sejarah perpindahan : Latar belakang pedesaan atau perkotaan? daerah asal? jika pernah pindah apa alasannya? sudah berapa lama mendiami tempat tinggal saat ini? bagaiaman keterikatan klien dengan tempat asalnya? seberapa sering mengunjungi atau berhubungan dengan orang disana? Tempat apa yang sangat penting bagi klien (dapat menggunakan peta).
- Pekerjaan dan status keuangan (orangtua/pengasuh utama/wali) : Apa pendapatannya, dari pemerintah atau dari sumber lain yang diterima oleh klien? siapa yang bekerja dalam keluarga? apa pekerjaannya? apakah klien mendapatkan penghasilan yang cukup untuk pemenuhan kebutuhan dasar? bagaimana caranya mendukung atau mengatasi masalah sehubungan dengan permasalahan yang dirancang dalam rencana pelayanan? apa kesulitan untuk mendapatkan lebih banyak sumber penghasilan?
- Hubungan dan Peran dalam keluarga : Riwayat keluarga dan isu signifikan yang dihadapi oleh keluarga dimasa lalu dan saat ini. Termasuk status perkawinan yang formal dan informal, peran anggota keluarga dan konflik antar peran, struktur keluarga, kompleksitas latar belakang budaya dalam keluarga, hubungan keterikatan/kelekatan klien dengan keluarga atau dengan orang penting lainnya di luar keluarga? siapa dan seberapa sering anak berkomunikasi? peran anggota keluarga/ orang penting lain dalam proses pengasuhan dan perawatan terhadpa klien, siapa yang lakukan apa dalam lingkungan keluarga.
- Keberfungsian sekolah dan keberfungsian dari institusi lainnya : bagaimana penampilan klien di sekolah, pelaksanaan tugas-tugas sehari-hari, bagaimana kemampuan menghadapi stress/tekanan,bagaimana relasi klien dengan teman, atau guru, atau atasan, bagaimana keluarga dapat menjamin akses pendidikan? bagaimana sekolah mampu mendukung kemampuan klien?
- Keberfungsian rekan/teman Relasi klien dengan teman-temannya di rumah/komunitas asal? disekolah? di panti? ditempat kerja?
Spiritual :
- Data spiritual : Apa identitas budaya klien? apa agama yang saat ini dianut? bagaiamna agama menjadi pendukung atau hambatan bagi klien? apa sumber inspirasinya? apa moto/prinsip hidupnya? Apa ada sesuatu yang memeberi makna kehidupan klien? Bagaimana pandangan spiritual klien terhadap situasi dan permasalahan yang dihadapi serta terhadap masa depannya?
- Budaya : Bagaiamankah nilai-nilai budaya mempengaruhi klien, bagaiaman pandangan klien, apa saja yang berpengaruh.
Alat asesmen :
- Time line
- Diagram Venn
- Peta jalan kehidupan
- Mobility Map
- Body Map
Thursday, May 16, 2013
Kekerasan terhadap anak sebagai penghambat masa depan Indonesia
Kekerasan
terhadap anak sebagai penghambat masa depan Indonesia
Di
Indonesia belakangan ini banyak kasus kekerasan terhadap anak, baru-baru ini
kita baru saja dihebohkan dengan kasus pembunuhan
keji yang terjadi di Surabaya pada seorang anak yang masih berusia 3,5 tahun,
dibunuh tetangganya sendiri, lalu jenazah anak itu disemen di rumah tersangka.
Selain itu marak juga terjadi kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak,
diantaranya dilakukan oleh ayahnya sendiri.
Secara kuantitatif jumlah anak yang dilaporkan mengalami
tindakan kekerasan setiap tahunnya
meningkat sedikitnya ada 2.637
kasus kekerasan pada tahun 2012, 2.509 kasus pada tahun 2011, dan 2.426 kasus
pada tahun 2010 berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia.
Indonesia
yang terkenal dengan nilai keramahannya, saling menghormati dan menghargai ini justru mengalami masalah tindak kekerasan
terhadap anak yang cukup besar jumlahnya. Hal ini seharusnya menjadi dilema
bagi seluruh lapisan masyarakat dan mewujudkan upaya untuk mengurangi
terjadinya tindak kekerasan ini.
Anak yang seharusnya
mendapatkan attachment dan kasih sayang dari orang disekelilingnya terutama
orangtua, justru malah mengalami tindak kekerasan, sehingga anak tidak dapat
bertumbuh dan berkembang secara baik. Anak sering
dijadikan objek tindakan kekerasan karena adanya asumsi tersendiri bahwa anak
lemah, dan tak berdaya (powerless). Ironisnya, kebanyakan kasus kekerasan
pada anak terjadi di lingkungan terdekat anak, antara lain lembaga pendidikan
dan lingkungan bermain anak. Terlebih, kekerasan dilakukan oleh orang terdekat,
misalnya orangtua dan guru.
Adapun
factor yang menyebabkan kekerasan terjadi pada anak ialah :
1.
Faktor internal ialah factor kondisi anak itu sendiri dan factor pada
orangtua.
Factor
kondisi anak sendiri, seperti : anak
yang mengalami sakit sehingga mendatangkan masalah, hubungan yang tidak
harmonis antara anak dan orangtua, anak yang sulit diatur sikapnya, kehadiran
anak yang tidak dikehendaki (anak diluar nikah), anak yang mengalami cacat baik
mental maupun fisik.
Faktor
pada orangtua, seperti : Pengalaman orangtua yang saat kecil di didik dengan
kekerasan, mengalami gangguan emosional, karakter pribadi yang belum matang
(terutama mereka yang telah mendapatkan anak
sebelum usia 20 Tahun), orangtua pecandu narkotika atau peminum alkohol,
keluarga broken home.
2.
Sedangkan factor eksternal ialah factor
lingkungan social.
Factor lingkungan social, seperti :
adanya toleransi dari masyarakat terhadap hukuman fisik, kondisi kemiskinan,
adanya nilai dalam masyarakat bahwa anak merupakan milik orangtuanya sendiri.
Berbicara mengenai
dampak yang dialami anak yang menjadi korban tindak kekerasan adalah
1. Secara
Fisik : Sakit yang serius, luka yang parah,
anak akan mengalami kecacatan, bahkan hingga mengakibatkan kematian.
2. Secara
Psikologis : Kurangnya motivasi atau harga diri, problem kesehatan mental,
misalnya kecemasan berlebihan, problem dalam hal makan, susah tidur.
3. Secara
Sosial : anak menjadi bersifat agresif/pemarah, menjadi pendiam, suka menarik
diri dari pergaulan dan mengalami ketakutan yang berlebihan.
Dampak tersebut sangat menggangu pertumbuhan dan
perkembangan anak sebagaimana mestinya.
Saya sangat setuju dengan pendapat sebagian
masyarakat yang mengatakan bahwa Anak-anak adalah generasi
penerus bangsa, anak adalah potensi masa depan, anak adalah asset terpenting
suatu bangsa. Karena kedepannya suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh generasi mudanya
pada saat ini. Mereka adalah agen perubah (agen of change) yang akan menjadi
salah satu penentu terpenting masa depan bangsa ini. Namun bagaimana bangsa ini
bisa menjadi lebih baik bila generasi yang diharapkan mampu membawa perubahan
justru sangat tragis nasibnya, banyak yang mengalami tindak kekerasan.
Oleh karena itu kita sebagai
bangsa Indonesia yang tidak ingin melihat keterpurukan bangsa ini kedepannya,
marilah kita saling peduli seorang terhadap yang lain, terutama terhadap anak, mewujudkan
kelompok control dalam masyarakat. Jangan hanya menunggu reaksi dari pemerintah
dan aparat yang berwenang, tapi inilah saatnya kita bertindak. Karena apabila
tidak ada kepedulian dari kita, maka kedepannya adalah waktunya kita untuk
melihat tindakan kekerasan terhadap anak ini merajalela, bangsa ini menjadi
terancam oleh tidak adanya perlindungan. Dan jangan terlalu berharap banyak
untuk kita dapat merasakan Negara yang mengalami perubahan menuju masa depan yang sejahtera.
NOW,
THIS IS TIME TO ACTION !!!
Sumber :
Suyanto, Bagong. 2003. Masalah Sosial
anak. Jakarta : Kencana Predana Media Grup.
Friday, May 20, 2011
BATAK
Mendengar kata batak,, ohooo,, sangat interest sekali sepertinya bagiku,, Bangganya menjadi orang batak!!
Mungkin sedikit share tentang suku ku ini,, Smoga tertarik...
Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal di Provinsi Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pak-Pak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Mayoritas orang Batak menganut agama kristen dan sisanya beragama Islam. Ada pula yang menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu), walaupun lambat laun aliran ini mulai pudar.
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, ialah: (1)Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo; (2) Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak; (3) Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun; (4) Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing.
Masyarakat Batak juga memiliki senjata tradisional yaitu, piso surit (sejenis belati), piso gajah dompak (sebilah keris yang panjang), hujur (sejenis tombak), podang (sejenis pedang panjang). Unsur teknologi lainnya yaitukain ulos yang merupakan kain tenunan yang mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan adat Batak.
Berikut adalah hal-hal yang erat kaitannya dengan suku Batak :
a. Perkawinan
Pada tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan sehingga jika ada yang menikah dia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja karena mayoritas penduduk Batak beragama Kristen. Sistem yang berlaku bagi masyarakat batak adalah sistem patrilineal.
b. Kekerabatan
Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sdah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya. Tidak adanya stratifikasi yang mencolok, karena semua di dasarkan atas persaudaraan dan penghormatan satu sama lain.
Kesenian
Seni Tari yaitu Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat Musik tradisional : Gong; Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang .
NILAI BUDAYA
1. Kekerabatan
Nilai kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian Na Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang dalam satu kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang menerima gadis untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan gadis disebut Boru.
2. Hagabeon
Nilai budaya yang bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu banyak, dan yang baik-baik.
3. Hamoraan
Nilai kehormatan suku Batak yang terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan meterial.
4. Uhum dan ugari
Nilai uhum orang Batak tercermin pada kesungguhan dalam menegakkan keadilan sedangkan ugari terlihat dalam kesetiaan akan sebuah janji.
5. Pengayoman
Pengayoman wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut di emban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu.
6. Marsisarian
Suatu nilai yang berarti saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.
Mungkin sedikit share tentang suku ku ini,, Smoga tertarik...
Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal di Provinsi Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pak-Pak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Mayoritas orang Batak menganut agama kristen dan sisanya beragama Islam. Ada pula yang menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu), walaupun lambat laun aliran ini mulai pudar.
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, ialah: (1)Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo; (2) Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak; (3) Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun; (4) Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing.
Masyarakat Batak juga memiliki senjata tradisional yaitu, piso surit (sejenis belati), piso gajah dompak (sebilah keris yang panjang), hujur (sejenis tombak), podang (sejenis pedang panjang). Unsur teknologi lainnya yaitukain ulos yang merupakan kain tenunan yang mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan adat Batak.
Berikut adalah hal-hal yang erat kaitannya dengan suku Batak :
a. Perkawinan
Pada tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan sehingga jika ada yang menikah dia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja karena mayoritas penduduk Batak beragama Kristen. Sistem yang berlaku bagi masyarakat batak adalah sistem patrilineal.
b. Kekerabatan
Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sdah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya. Tidak adanya stratifikasi yang mencolok, karena semua di dasarkan atas persaudaraan dan penghormatan satu sama lain.
Kesenian
Seni Tari yaitu Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat Musik tradisional : Gong; Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang .
NILAI BUDAYA
1. Kekerabatan
Nilai kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian Na Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang dalam satu kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang menerima gadis untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan gadis disebut Boru.
2. Hagabeon
Nilai budaya yang bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu banyak, dan yang baik-baik.
3. Hamoraan
Nilai kehormatan suku Batak yang terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan meterial.
4. Uhum dan ugari
Nilai uhum orang Batak tercermin pada kesungguhan dalam menegakkan keadilan sedangkan ugari terlihat dalam kesetiaan akan sebuah janji.
5. Pengayoman
Pengayoman wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut di emban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu.
6. Marsisarian
Suatu nilai yang berarti saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.
Tuesday, May 17, 2011
Perjalanan Hidup
Smakin hari tak terasa semakin bertambah umurku, smakin ku menengerti arti hidup ku yang sesungguhnya, dan semakin berat pula beban yang ku pikul. Tak kurasa bahwasannya umurku yang semakin bertambah mendorong aku untuk dewasa. Hidupku yang dahulu selalu dipenuhi oleh kemanjaan, dan harapan yang slalu dikabulkan oleh keluargaku, kini semua telah sirna perlahan-lahan digantikan dengan dorongan yang kuat untuk berusaha menggapai dan meraih semua harapan ku, smuanya itu harus ku dapatkan dengan usaha ku tiada bantuan dari orang lain.
Inilah yang namanya hidup, terkadang kita jadi anak-anak, dan juga jadi seorang remaja dan saat ini aku harus menjalankan keseharianku menjadi seorang dewasa. Hidup sendiri untuk meraih pendidikan dan cita-citaku, hanyalah Tuhan tempatku mengadu dan tempatku meminta. Tuntutan untuk berhasil, memberitakan kabar baik dari kejauhan kota ke kota tempat orang tua ku berasal.Hanyalah 1 hal yang membuatku slalu bahagia menerima kehidupan ini, yakni melihat senyuman dari bibir manis kedua orang tuaku, ketika mendengar bahwasannya aku berhasil mendapatkan hal yang terbaik. Itulah yang membuatku semangat untuk menjadi yang terbaik dilingkungan ku,, meskipun mungkin itu terasa sulit, namun harus ku hadapi sebab aku ingin melihat tawa senyum kedua orang tua ku.
Banyak tantangan ketika ku mempunyai suatu komitmen, terkadang aku tak kuasa tuk membendung amarah dan rasa tak berdaya, namun tekad bulat yang sudah kutanamkan dari dalam diri ku sudah lebih besar dibanding segala tantangan yang ku terima. Teguhkan pendirian dan tetap ingat tujuan utamaku, itulah yang akan membuat kita tetap tegar dan termotivasi menjalani hidup ini....
Subscribe to:
Posts (Atom)